Lilie Suratminto ialah bahasawan yang mengungkap kebenaran sejarah dari nisan kuno peninggalan "hantu-hantu kolonial". Pindah jurusan demi menerjemahkan makana simbol dan teks lama.

Clara Rondonuwu, Media Indonesia, Senin 15 Maret 2010
URINE berwarna kuning pucat dalam botol plastik bekas kemasan air mineral itu menggelinding di antara nisan-nisan tua di pekarangan Museum Taman Prasasti, Tanah Abang, Jakarta. "Aduh, bukan main ini, sampah tidak disapu," kata Lilie Suratminto, pekan lalu.Wajar jika pemandangan tersebut memancing senewen. Separuh dekade ini bahasawan tersebut bekerja sendirian menerjemahkan makna lambang dan teks kuno yang terpahat pada nisan kompeni atau yang dianggapnya sebagai dokumen sejarah kolonial yang punya daya memecahkan persoalan Indonesia hari-hari ini.Adapun pojoknya berjibaku ialah pojok yang berantakan. Sedikit masyarakat yang melek sejarah atau setidaknya mau menyesap pesan dari penjajah yang sudah meninggal. Banyak nisan yang terbengkalai, bila perlu disikat pembangunan Ibu Kota, dibongkar, atau ditiban rumah penduduk. Tak peduli sebagian mungkin termasuk karya pahat terhebat pada masanya.Beruntung, Lilie punya bekal pantang menyerah. Sebelum mengambil doktor di Universitas Indonesia dengan disertasi bertajuk Komunitas Kristen Masa VOC di Batavia Dilihat dari Batu Nisan-nya Sebuah Kajian Semiotik dan Analisis Teks, dia pernah digembleng dalam biara Katolik di Vught, dekat Brabant Utara, Belanda. Dengan tafsir nisannya, dimotori komunitas pecinta sejarah, Lilie menyeret turis domestik dan asing ke hadapan nisan-nisan tua yang berserakan sepanjang Jakarta sampai Ternate. Dia ingin masyarakat melihat wajah sejarah kolonialisme Hindia Belanda dari catatan lain.
Berkaca di nisan Heemraden
Suatu pagi di Museum Taman Prasasti, Lilie menunjukkan pahatan pada sebuah lempeng batu kubur yang ditegakkan di sisi kanan pintu. Pada nisan terpampang teks bahwa yang terkubur pada liang lahat itu adalah Hans Helt, tiga anaknya, dan bekas istrinya.Kata Lilie, lelaki yang tutup usia pada Juli 1679 saat berusia 38 tahun itu disebutkan pada nisan pernah menjadi pejabat kolonial yang membidangi bangunan, jembatan, dan tanggul air untuk Batavia. "Kedudukan pejabat pengairan waktu itu merupakan suatu kebanggaan. Bandingkan dengan jabatan itu sekarang," kata dia.Entah kenapa dia meninggal di usia muda, berikut tiga anaknya. Sebab yang jelas di masa Helt hidup,wabah penyakit belum mengganas. Nisan Helt, menurut Lilie, dipahat dengan simbol-simbol indah. Bertabur pahatan sisik ikan dan berlian, ini diartikan di Batavia Helt tampaknya menghasilkan banyak uang dan menduduki status sosial tinggi.Lilie pun teringat pada naskah perjalanan seorang petualang ternama abad ke-17, yang sempat ia baca. Kurunnya dekat dengan masa hidup Helt. "Jadi saat Helt hidup, Batavia dalam kondisi paling cantik. Karena kecantikan kanal-kanal-nya, dalam catatan perjalanan seorang petualang terkenal Batavia disebutkan bak Venesia di timur."Adapun kedudukan Helt pada masa itu, dalam teks sejarah disebut sebagai Heemraden, jabatan sangat prestisius dan meraup bayaran tinggi. Situasi Batavia berubah cepat di awal abad ke-18. Seabad setelah Helt dimakamkan. Mulai banyak pabrik gula yang didirikan orang China di sepanjang bantaran -sungai, masing-masing menumpahkan limbah ke kanal. Polusi menggerogoti Batavia dan menyumbat jaringan kanal yang sudah didesain baik. "Sampai hari ini Jakarta tidak pernah pulih. Banjir dan pencemaran sungai terus bertambah buruk dari tahun ke tahun," ujarnya.
Gereja Sion sampai Ternate
Adapun sang bahasawan mulai terpikir jadi tomb raidersejak 1996. Sebuah perjalanan menemani dosen literatur kolonial dari Universitas Amsterdam ke daerah Banten Lama telah membangkitkan minatnya membaca inskripsi di perkuburan kuno.Berambisi mengerti, Lilie pun mendaftarkan studi doktornya ke Jurusan Linguistik Universitas Indonesia. Dalam proses itu, para guru besar meminta sang bahasawan banting setir ke Jurusan Sejarah dan mau tak mau ia mengulang teori dasar.Lilie tidak menolak. Bahasawan yang awalnya bekerja untuk anak-anak yang mengalami disfungsi otak di Day Care Center, dekade 1970, tersebut justru asyik mencari metode paling kuat bagi penelitian nisannya. Dia tidak ingin berhenti pada tafsir teks. Lilie sadar bahwa nisan kuno VOC memuat pertalian dramatik antara teks lama dan simbol. "Akhirnya saya pun memperoleh teori dari semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna tanda dan hubungan antara tanda," katanya.Awalnya, ruang penelitiannya teren-tang dari Museum Taman Prasasti, bekas bangunan Gereja Belanda Baru yang sekarang dipakai oleh Museum Wayang, Gereja Sion, dan Pulau Onrust. Belakangan ia pun berjalan-jalan sampai Benteng Oranje di Ternate, Maluku Utara, yang pernah dijadikan pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda.Di sana, sekali lagi dia dibenturkan pada kenyataan betapa lugunya masyarakat Indonesia memahami nisan kuno, simbol, dan sejarah. Seorang lelaki mendatanginya di tengah tur. Dia ngebet meminjam ilmu Lilie untuk membaca makna sebuah pahatan Belanda di lantai kamar tidurnya."Saya datang dan begitu karpet plastik di kamar itu dibuka, saya menemukan batu makam bertulisan Di sini dimakamkan seorang nyonya angkatan bersenjata yang meninggal saat melahirkan, 30 Januari 1667." Lilie cuma tertawa begitu lelaki, yang rupanya polisi itu bergidik. "Melihat ada lambang kucing pada nisan, dia malah ngeri karena menurut dia, kucing banyak datang ke rumahnya. Itu dia Indonesia terlalu banyak kleniknya," tambah Lilie.Karena itu, selepas meraih doktor Lilie giat memberi ulasan dan terjemahan cuma-cuma bagi siapa pun yang ingin mengerti apa yang terpahat pada nisan, sumber penting yang terlewatkan. Sebab nisan kuno bukan sekadar batu berkualitas yang ditambang orang-orang India Selatan di perbukitan Tamil Nadu, lalu dipahat dan dikirim ke .Batavia. Nisan juga penerus pesan si mati kepada yang masih bernapas, sebelum mereka tidur panjang.Sebuah nisan budak belian dekat pintu Gereja Sion, misalnya, ingin bercerita bahwa dulu pemah ada seorang miskin yang jadi kaya mendadak lalu banyak menyumbang uangnya untuk pembangunan tempat ibadah. Sementara Gubernur Jenderal kala itu, meski nisannya lebih tinggi daripada posisi nisan lain, tetapi makamnya diletakkan jauh dari pintu gereja karena miskin kontribusi pada pembangunan. "Dengan semiotika, tak cuma lambang, posisi juga punya terjemahan. Kadang kita enggan percaya. Tetapi lambang punya makna," imbuh dia.
Menularkan apresiasi.
Seandainya Lilie tidak mendalami studi nisan, tak pernah muncul seabrek informasi mendetail di Museum Taman Prasasti. Pelesir ke makam kuno, tak punya bunyi. Jakarta tak pernah tahu kalau sumber sejarah berupa nisan tak sepantasnya dibongkar, sebab dengan lonjakan kunjungan tur makam sesungguhnya Ibu Kota bisa kecipratan banyak kapital.Dari Museum Taman Prasasti, Lilie pun berkeliling. Dia mengiring perhatiannya ke sebuah makam berstempel Vogelaar. "Dalam kamus Belanda yang baru disebutkan artinya pemikat burung, tetapi kamus Belanda lama vogelaar berarti mucikari," katanya.Dulu, lanjut Lilie, mucikari memang punya peran vital. Itu sebabnya, beberapa beroleh makam istimewa. Jasa mucikari dimanfaatkan Belanda dalam rekruitmen pasukan. Waktu itu, Belanda kesulitan merek-trut orang untuk menjadi serdadu, lalu memakai jasa mucikari untuk menjaring lelaki muda masuk ke bar, dibuat mabuk, dan begitu mereka sadar mereka telah menandatangani kontrak belasan tahun sebagai prajurit.Lebih lanjut, Lilie menjelaskan ada pula Iambang-lambang vrijmetselarij atau freemansory yang terpahat pada sejumlah nisan, mengekspos terbawanya aliran intelektual yang kontroversial tersebut ke Hindia Belanda pada suatu masa. Atau, kata Lilie, lihat betapa nyentrik batu makam bergaya Hindu di sudut belakang Museum Taman Prasasti yang rupanya milik Jan Laurens Andries Brandes. Dia adalah orang Belanda yang menemukan Kitab Negarakertagama pada 1894, saat pasukannya yang lain sibuk meraup harta karun Raja Lombok dalam sebuah penyerbuan di Cakranegara, pusat kerajaan Hindu Lombok.Usai membangkitkan kisah hantu-hantu VOC dari kubumya, sekarang sang bahasawan punya kesukaan baru, yakni mendokumentasikan makna dari lambang partai. "Saya ada kelas dengan mahasiswa Jepang, tugas saya memperbaiki lafal mereka supaya nggak nyebut jalan dengan jalang," kata sang bahasawan menutup perjumpaan. Puluhan tahun mengajar bahasa Belanda di Universitas Indonesia dan kampus lain, Lilie mengaku tak pernah berhenti mencari alternatif segar untuk melebarkan perspektif sejarah bangsa ini.
Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-40 Media Indonesia, menyajikan 40 sosok terpilih. Lilie Suratminto terpilih sebagai sosok ke-39, penerjemah nisan kuno VOC.