Tuesday 18th of June 2013

logo
Home
Selamat Datang di FIB UI
Ceramah Sastra “ Persoalan Lintas Budaya Dalam Karya Sastra” Cetak
Selasa, 05 Maret 2013 09:26

Suku-Agama-Ras dan Antar golongan sering menjadi topik yang dianggap tabu, sensitif, dan harus ditangani dengan kehati-hatian. Lewat media novel berjudul “Excuse Moi”, sang penulis, Margareta Astaman, mengangkat semua hal tentang SARA itu dengan gaya bercerita yang  apa adanya dan penuh canda, yang tercermin dalam sosok tokoh utamanya, seorang anak perempuan muda dari etnis Tionghoa yang hidup di Jakarta.

Departemen Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Selasa 5 Maret 2013, bertempat di R. 2401, kampus FIB UI,  berkesempatan menghadirkan secara langsung sang penulis “Excuse Moi”, Margareta Astaman. Dalam kesempatan diskusi tentang isi novel karyanya, ia mengangkat sebuah topik yaitu “Persoalan Lintas Budaya Dalam Karya Sastra”. Ia juga berbagi pengalaman sebagai orang Indonesia yang hidup di Singapura, di mana ia harus berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Diskriminasi terkadang muncul dan tak dapat dihindari, bahkan tak jarang sampai mengarah ke hal sensitif yaitu hubungan romantis beda ras beda agama.

Ceramah umum ini dihadiri oleh para pengajar dan mahasiswa Departemen Ilmu Susastra, dan sesi diskusi dipimpin oleh Manneke Budiman, Ph.D (Staf Pengajar Departemen Ilmu Susastra FIB UI). (AKW)

 
Pembukaan Kegiatan MAPRES FIB UI 2013 Cetak
Selasa, 05 Maret 2013 09:22

Universitas Indonesia (UI) tahun 2013 ini kembali menggelar kegiatan pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAPRES). Seleksi dimulai dari tingkat fakultas di lingkungan UI. Hari ini, Selasa, 5 Maret 2013, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI pun turut menggelar Babak Penyisihan Mapres Tingkat FIB UI. Acara pembukaan digelar di Auditorium 1103, Kampus FIB UI, dan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan FIB UI Dr. Risnowati Martin, mewakili Dekan FIB UI yang berhalangan hadir. Acara pembukaan dihadiri oleh para manajer di lingkungan FIB UI, para juri, dan juga seluruh peserta Mapres 2013.

Dalam sambutannya, Dr. Risnowati Martin menyampaikan bahwa, prestasi akademik dan non-akademik adalah sama pentingnya. UI sedang membicarakan peraturan baru yaitu pencantuman prestasi non-akademik di samping prestasi akademik dalam transkrip nilai para lulusan UI di masa mendatang. Hal tersebut diharapkan akan memacu semangat para mahasiswa untuk meningkatkan prestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang non-akademik. Prestasi akademik dan non-akademik juga terbukti sangat berguna bagi para alumni UI ketika mereka memasuki dunia kerja.

Acara Mapres Tingkat FIB UI 2013 ini diikuti oleh 32 orang peserta dari 14 Program Studi (Prodi), minus Prodi Belanda yang tidak mengirimkan wakilnya. Seluruh peserta harus melewai beberapa tahap yaitu Penyisihan, Semi Final, dan Final. Masing-masing tahapan tersebut, para peserta di antaranya harus melakukan presentasi makalah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, penelitian budaya (khusus bagi para semifinalis) ke Jember, Jawa Timur, dengan tema penelitian tahun ini, “Budaya Kreatif Jember, Banyuwangi sebagai Potensi Keunggulan Bangsa”. Selain itu, para finalis nantinya juga harus mengikuti Debat Mapres, dan berkesempatan mempertunjukkan kemampuan kreatifnya dalam bidang seni-budaya. Untuk lolos ke babak semifinal, peserta akan diseleksi menjadi 12 orang, dan untuk mencapai babak final, dipilih 6 orang peserta, yang semuanya akan mendapat gelar Juara 1 hingga Juara Harapan 3.

Kriteria penilaian, seperti disampaikan oleh Ketua Tim Juri Mapres 2013, Manneke Budiman, Ph.D (Prodi Inggris), di antaranya adalah, kemampuan analitis, ruang lingkup topik makalah, kemampuan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sisi inovasi dan pelaksanaan nyata ide dan gagasan yang disampaikan, orisinalitas gagasan, dan juga kemampuan non-akademik, seperti pengalaman organisasi, kegiatan sosial kemasyarakatan, dan berbagai bukti prestasi dalam kejuaraan atau lomba. (AKW)

 
Ceramah Umum Michael G. Vann Cetak
Jumat, 22 Februari 2013 03:22

Departemen Ilmu Susastra bekerjasama dengan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menggelar acara Ceramah Umum dengan pembicara Assoc. Prof. Michael G. Vann (California State University, Sacramento, Fullbright Senior Scholar, Universitas Gajah Mada, 2012-2013). Ceramah Umum kali ini bertajuk “ Sex, Lies, and the Cartoons of Empire: Exploring Gender, Race, and Power in Colonial Vietnam.” Acara diadakan di Auditorium 1103, Kampus FIB UI, dengan moderator Prof. Melani Budianta, Ph.D (Guru Besar FIB UI Bidang Ilmu Susastra).

Michael G. Vann dalam ceramahnya memaparkan bahwa media kartun dapat menjadi salah satu sumber sejarah untuk menjelaskan masa kolonialisme Perancis di Vietnam. Humor yang diabadikan dalam gambar-gambar kartun, ternyata menunjukkan kegagalan kolonialisme dalam membangun mentalitas koloni, baik pihak penjajah maupun pihak terjajah. Di samping itu, media kartun dapat menjadi ruang terbuka bagi pembicaraan mengenai hal-hal “tabu”, seperti rasisme dan seksualitas.

Selain itu, Michael G. Vann juga mengetengahkan topik yang seringkali luput dari pantauan dan minat para sejarawan, yakni sejarah penanggulangan hama tikus di wilayah kota Hanoi. Hama tikus penyebar wabah penyakit, dan merajalela di Hanoi pada masa pendudukan Perancis di Vietnam, dalam pandangan Michael merupakan wujud belum modernnya masyarakat Vietnam pada masa itu, dan sekaligus juga menjadi pembenaran bagi misi kolonisasi Perancis atas Vietnam. Pendekatan lintas disiplin (sejarah & cultural studies) melalui paparannya tentang peristiwa pembasmian hama tikus ini, ternyata memperkaya kajian tentang sejarah dan mentalitas masyarakat Vietnam kala itu.

 
Ceramah Umum Prof. Adrian Vickers Cetak
Kamis, 21 Februari 2013 05:29

Adrian Vickers adalah Profesor Studi Asia Tenggara di Universitas Wollongong dan University of New South Wales, Australia. Saat ini ia menjabat sebagai Program Director of Asian Studies dan Director of the Australian Centre for Asian Art and Archaeology.  Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun melakukan penelitian, ia telah menghasilkan berbagai karya ilmiah dan populer khususnya tentang Indonesia, di antaranya adalah, A Paradise Created (2012), A History of Modern Indonesia (2012) dan Bali Art: Lukisan dan Gambar Bali, 1.800-2.010 (2012).

 Pengalamannya yang cukup panjang dalam menekuni penelitian tentang sejarah Indonesia tersebut, menjadikannya sebagai salah satu Pengajar Tamu di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Universitas Udayana Bali, dan Leiden University. Kamis, 21 Februari 2013, Adrian Vickers berkesempatan memenuhi undangan  Departemen Sejarah FIB UI untuk berbagi pengalaman dalam acara Ceramah Umum dengan topik “Sejarah Indonesia Modern.” Acara Ceramah Umum ini diadakan di R. 4101, Kampus FIB UI, yang dihadiri oleh para pengajar dan mahasiswa Departemen Sejarah FIB UI.

Dalam pokok bahasannya, Adrian Vickers memaparkan lanskap sosial dan politik Indonesia modern, dimulai dengan asal-usul Indonesia di masa pendudukan Belanda pada awal abad ke-20, berlanjut ke masa perjuangan anti-kolonial, sampai era kemerdekaan pada tahun 1945. Tahun 1950-an, menjadi suatu periode penting dalam pembentukan Indonesia sebagai sebuah negara modern. Perjalanan sejarah Indonesia modern dimulai dari era Soekarno yang kemudian berlanjut ke era anti-Komunis pada tahun 1960-an, dan akhirnya membawa Soeharto sebagai pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Indonesia dan menandai dimulainya Orde Baru. Adrian Vickers dalam paparannya juga menjelaskan hasil pengamatannya tentang akhir era Orde Baru yang ditandai dengan jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan, setelah 32 tahun berkuasa, hingga masa awal era Reformasi yang penuh dengan kekacauan politik dan agama, yang mencapai puncaknya ketika peristiwa bom Bali tahun 2002. (AKW)

 

 
Kunjungan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia Cetak
Selasa, 12 Februari 2013 09:13

Selasa 12 Februari 2013, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menerima kunjungan Mr. Vyacheslav Tuchnin, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta. Kedatangan Beliau diterima secara resmi oleh Rahadjeng Pulungsari, M.Hum, Sekretaris FIB UI didampingi Koordinator Program Studi (Prodi) Rusia, A. Fachrurodji, M.A. Pertemuan tersebut membahas peningkatan hubungan kerja sama yang telah terjalin antara FIB UI dengan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta. Selain itu, Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia juga memberikan bantuan berupa buku pelajaran bahasa Rusia untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar di Prodi Rusia FIB UI. (AKW)

 
Ceramah Umum Prof. Dr. Aiko Kurasawa Cetak
Selasa, 19 Februari 2013 09:35
Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan Ceramah Umum yang mengangkat topik “Nasib Displaced Indonesians” Hadir sebagai pembicara utama yaitu Prof. Dr. Aiko Kurasawa, seorang peneliti ahli masalah kebijakan dan perkembangan sosial Asia Tenggara, khususnya perubahan sosial komunitas akar rumput di Indonesia, sekaligus Guru Besar Sejarah Sosial-Ekonomi dari Keio University, Jepang.  Acara kuliah umum ini ini dilaksanakan pada Selasa, 19 Februari 2013, mulai pukul 10.00 WIB, di Ruang 1103 Kampus FIB UI. Acara ini dipandu oleh moderator, Dr. Bondan Kanumoyoso, salah satu pengajar Departemen Sejarah FIB UI.Dalam paparannya, Aiko Kurasawa menjelaskan tentang nasib “Displaced Indonesians” atau orang-orang Indonesia yang berada di negara lain pada pendudukan Jepang di beberapa wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Aiko Kurasawa membaginya kedalam tiga kategori besar, yaitu: Displaced Indonesians karena Romusha dan menjadi anggota Heiho, kategori selanjutnya adalah Displaced Indonesians yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, dan pengusaha yang datang ke Jepang pada era 1930-an, dan kategori ketiga adalah anak-anak hasil kawin campur antara pria Jepang dengan wanita Indonesia. Sebagian dari mereka memilih tetap bertahan berada di luar Indonesia, tapi tidak sedikit juga yang memilih pulang ke Indonesia pasca berakhirnya Perang Dunia II yang ditandai dengan kalahnya tentara Jepang atas Sekutu. Mereka memilih pulang ke Indonesia dengan berbagai alasan,  diantaranya karena keterikatan dengan kampung halaman di Indonesia. Namun demikian proses pemulangan mereka juga bukan hal yang mudah, mengingat situasi di Indonesia sendiri pasca pendudukan Jepang, juga masih tidak menentu. Adapun topik yang disampaikan dalam ceramah umum yang dihadiri oleh para mahasiswa dan pengajar dari Departemen Sejarah FIB UI ini, merupakan rangkuman hasil penelitian Aiko Kurasawa yang baru saja diterbitkan dalam bentuk buku dan masih dalam edisi bahasa Jepang. (AKW)

 

 

 
Artikel Lain...
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

Halaman 9 dari 105


Copyright © 2008 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia